GEMPAR! DIDUGA TIMBUN GAS DIBACKUP OKNUM GURU BAHASA INDONESIA, WARTAWAN POLRI JUGA SIAP LAPORKAN!

EMPAT LAWANG//Wartapolri.com – Rabu 15 April 2026 – Kasus dugaan penimbunan gas LPG 3kg di Kabupaten Empat Lawang semakin memanas dan meluas. Publik kini dibuat bertanya-tanya, mengapa oknum Guru Bahasa Indonesia justru membela praktik curang tersebut, padahal masyarakat miskin dibuat menjerit oleh harga yang melambung tinggi.

Terungkap, sosok yang diduga kuat memprovokasi dan membelakangi praktik penimbunan di lokasi Tanjung Beringin, Kecamatan Tebing Tinggi ini adalah seorang Guru Bahasa Indonesia yang mengajar di SMP Negeri 5 Tebing Tinggi.

Wanita yang akrab disapa “Mak Olin” di media sosial ini belakangan menjadi sorotan publik. Melalui unggahannya, ia diduga kuat melakukan provokasi dengan mengajak rekan-rekan guru, termasuk guru Bahasa Indonesia dan organisasi PGRI, untuk memusuhi insan pers yang sedang memberitakan kasus ini.

Aksi pembelaannya ini semakin mencuat setelah dirinya diketahui sudah dilaporkan secara hukum oleh Diah Anggraini, Wartawan Televisi TVRI, pada hari Selasa, 15 April 2026, terkait ujaran kebencian dan penghinaan terhadap profesi wartawan.

WARTAWAN POLRI TURUN TANGAN

Belum selesai dengan satu laporan, kini giliran insan pers dari institusi kepolisian yang angkat bicara. Joko Saputra, selaku Wartawan Polri, menyatakan akan segera membuat laporan tambahan terkait penyebutan nama dirinya yang dibawa-bawa dan dipojokkan di media sosial oleh oknum tersebut.

Hal ini ditegaskan oleh Fatoni, S.H., M.H., yang menyampaikan bahwa Pimpinan Media Wartapolri di Jakarta sangat tidak terima melihat anggotanya diperlakukan tidak adil dan diserang secara pribadi.

“Pimpinan media Wartapolri di Jakarta tidak terima anggotanya dipojokkan. Kami akan buat laporan langsung ke Mabes Polri,” tegas Fatoni, S.H., M.H.

Langkah hukum ini akan tetap ditempuh meskipun sebelumnya laporan serupa sudah terlebih dahulu dilayangkan oleh wartawan TVRI

WARGA PROTES: KALIAN PNS, KAMI RAKYAT KECIL

Merespons sikap Mak Olin yang membela lokasi yang diduga sebagai gudang penimbunan gas, kemarahan masyarakat meledak. Mereka menilai sikap seorang pendidik ini sangat tidak adil dan tidak memihak rakyat kecil.

“Netizen bertanya, kenapa Mak Olin begitu membela sebuah rumah mewah yang diduga kuat menimbun tabung gas? Apakah beliau tidak merasakan bahwa harga gas sekarang melambung tinggi hingga mencapai Rp 50.000 per tabung?” ungkap kekecewaan salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Lebih jauh warga menyoroti status ekonomi oknum guru tersebut.

“Wajar saja kalau Mak Olin tidak merasa berat dan seenaknya membela penimbun. Soalnya mereka kan PNS semua, suami istri. Apalagi suaminya menjabat sebagai Kepala Pasar Tebing Tinggi. Pasti ekonominya aman,” tegasnya.

“Bagaimana dengan nasib kami masyarakat miskin? Untuk mendapatkan uang sebesar Rp 50.000 saja kami harus bekerja keras, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mereka enak hidup bergelimang fasilitas negara, tapi tega membiarkan rakyat kecil kesulitan membeli masak,” tambahnya dengan nada emosi.

Hingga berita ini diturunkan, publik menuntut agar pihak berwenang tidak hanya menindak lokasi penimbunan, tetapi juga menelusuri jejaring dan siapa saja oknum-oknum yang diduga menjadi “penyangga” atau “backingan” bagi praktik monopoli dan penimbunan yang merugikan masyarakat luas ini.

@(Red)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *