Sumsel Dikepung Asap: Saat Udara Bersih Menjadi Barang Mewah Di Bumi Sriwijaya

Palembang//Wartapolri.com – Sumatera Selatan kembali dikepung api dan kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas secara drastis dalam beberapa pekan terakhir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel dan Kementerian Kehutanan melaporkan bahwa ribuan titik panas (hotspot) mendominasi kawasan rawa gambut dan semak belukar yang mengering akibat puncak musim kemarau. Dampak dari bencana tahunan ini kian mengkhawatirkan, melumpuhkan aktivitas kota hingga mengancam kesehatan ratusan ribu warga.
Berikut adalah narasi berita mendalam mengenai situasi karhutla di Sumatera Selatan beserta dampak signifikannya:

 

Memasuki pertengahan hingga akhir Oktober 2026, kebakaran lahan di Sumatera Selatan diperkirakan terus menghanguskan 200 hingga 300 hektare lahan per hari. Titik api paling aktif berpusat di beberapa wilayah rawan lama seperti Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, Musi Banyuasin, dan perbatasan Kota Palembang.
Kondisi diperparah karena mayoritas lahan yang terbakar merupakan lahan gambut dalam. Di permukaan, api mungkin terlihat sudah padam, namun di bawah lapisan tanah, bara api terus menjalar dan memproduksi asap tebal tiada henti. Satgas Gabungan dari Manggala Agni, TNI, Polri, dan BPBD harus berjibaku melakukan pemadaman di bawah cuaca terik. Keterbatasan sumber air—di mana petugas terkadang harus menarik selang hingga sejauh 500 meter—menjadi tembok besar yang menghambat proses penjinakan si jago merah.

 

Kebakaran masif ini tidak lagi sekadar merusak ekosistem hutan lindung dan lahan perkebunan, tetapi telah masuk ke lini kehidupan sehari-hari masyarakat:
* Pengepungan Kabut Asap di Kota Palembang: Bau menyengat gas monoksida dan partikel debu sisa pembakaran menyelimuti Kota Palembang, terutama pada pagi hari. Jarak pandang (visibility) di jalan raya sempat merosot tajam, membuat para pengendara motor diselimuti rasa was-was akan potensi kecelakaan.
* Krisis Kesehatan (Lonjakan Kasus ISPA): Udara beracun memicu lonjakan penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Sumsel yang kini telah melampaui angka 11.000 kasus. Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia terpaksa dikurung di dalam rumah, sementara warga yang beraktivitas di luar wajib mengenakan masker medis tebal.
*Gangguan Pendidikan dan Sosial: Akibat buruknya kualitas udara yang masuk dalam kategori “Tidak Sehat” hingga “Berbahaya”, sejumlah sekolah di wilayah terdampak terpaksa menghentikan aktivitas tatap muka dan mengalihkan para siswa ke sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau daring.
* Warga Kehilangan Waktu Istirahat: Di wilayah pinggiran seperti Talang Kelapa (perbatasan Palembang-Banyuasin), warga mengeluhkan depresi ringan dan susah tidur malam akibat suara sirine armada pemadam yang hilir mudik tanpa henti serta ancaman api yang sewaktu-waktu merembet ke pemukiman mereka.
* Jangkauan Asap Lintas Provinsi: Angin kencang membawa kabut asap pekat ini bergerak jauh ke arah Barat Laut Pulau Sumatera, bahkan dilaporkan mulai mengotori langit kota-kota di provinsi tetangga hingga ke wilayah Aceh.

 

Pemerintah pusat melalui BNPB terus memaksimalkan teknologi guna mereduksi asap pekat ini. Selain mengerahkan puluhan helikopter water bombing, operasi modifikasi cuaca secara intensif dilakukan dengan menyemai tonan es kering (dry ice) di udara untuk mengurai kepungan asap di langit Sumsel.
Di sisi lain, penegakan hukum kini berjalan lebih agresif. BNPB menemukan setidaknya 44 area konsesi hutan dan perkebunan sawit yang ikut terbakar. Karena titik api kerap muncul tepat di perbatasan izin lahan, muncul dugaan kuat adanya unsur kesengajaan oleh oknum korporasi maupun perorangan yang membakar lahan demi menekan biaya pembukaan lahan (land clearing). Kementerian Kehutanan dan Kepolisian Daerah Sumsel kini tengah melakukan penyegelan dan menyelidiki ratusan TKP guna menyeret pihak yang tidak bertanggung jawab ke jalur hukum.

Kaperwil Sumsel : Jokowarpol

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *